Sudut Pandang: Orang-1
Judul: Arti Sahabat
Alur: Mundur
Arti Sahabat
Aku membalik halaman demi halaman album foto lama yang tak sengaja kutemukan kala sedang bebersih rumahku. Album foto itu berwarna merah padam, sampulnya kusam, dan foto-foto di dalamnya usang. Walau begitu, album foto ini menyimpan begitu banyak cerita mulai dari kelahiranku sampai trip keluarga kami ke Bali, semuanya tercatat di sini. Setelah membolak-balik halaman demi halaman yang sudah hampir sobek, sebuah foto menarik pandanganku. Foto dua anak yang kiranya berusia lima tahun dengan sepeda mereka masing-masing. Ia adalah aku dan sahabat pertamaku. Sahabat yang begitu spesial. Noel namannya.
*
*
“Nina! Nina! Main yuk!” Sahut bocah lelaki pendek dengan rambut hitam acak-acakkan yang masih basah. Bajunya berwarna biru dengan gambar karakter robot favoritnya. Kedua tanganya dengan mantap menggiring sepeda roda empatnya ke depan rumah sahabatnya, Nina.
“Tunggu sebentar ya, Noel. Nina! Ada Noel nih!” Nina yang mendengar nama Noel spontan bangkit dari tidurnnya. Ia segera bergegas menuju daun pintu rumahnya, tak sabar menemui temannya. Sebelum pergi bermain, Nina terlebih dahulu pamit pada bundanya.
“Hati-hati Nina, Noel!” Bunda melambaikan tangan kepada sang putri dan Noel, yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.
Kini Nina dan Noel menyusuri jalanan perumahan mereka dengan sepeda masing-masing. Angin sepoi-sepoi dan teriknya matahari siang itu menemani perjalanan mereka. Keduanya begitu bersemangat mengayuh sepeda mereka. Nina yang sedang larut dalam lamunannya pun tersadar karena Noel memanggilnya.
“Nina! Hari ini kita main dengan temanku yang lain ya!”
“Oke!”
Singkatnya balasan Nina menutup percakapan mereka. Di lapangan perumahan terlihat tiga orang yang dimaksud Noel. Dua bocah laki-laki dan seorang gadis kecil. Mereka bertiga tampak sedang asik mengobrol dan bercengkrama. Noel yang telah sampai sudah lebih dulu memarkirkan sepedanya asal di tepi lapangan disusul oleh Nina yang ada tepat di belakangnya.
“Hai Noel!” Ucap ketiganya kompak.
Nina yang sedikit canggung akhirnya berusaha berbaur dan bermain bersama yang lainnya. Suasana pun menjadi lebih ceria dan kecanggungan di antara mereka berkurang. Kelima anak itu bermain dengan asiknya tanpa kenal waktu. Mulai dari main ketapel sampai petak umpat, semuanya telah mereka lakukan. Perlahan waktu mengalir dan kini jam telah menunjukkan pukul lima sore. Sebentar lagi adzan maghrib dan sudah seharusnya mereka semua pulang.
“Noel, ayo kita pulang! Bunda pasti sudah khawatir.”
“Ah, masa sudah pulang sih?” Sahut salah seorang teman Noel yang membuat Nina mengerutkan dahi. Nina pun langsung menengok ke arah Noel, menunggu jawaban sang sahabat.
“Maaf ya, kali ini aku harus menemani Nina pulang.” Senyum puas terpatri di wajah Nina. Haha rasakan! Batin Nina dalam hati.
Kini Noel dan Nina sudah menyiapkan sepeda mereka masing-masing. Nina yang telah menaikkan sepedanya ke genggamannya mulai mundur untuk bersiap menaiki sepedannya. Sial sekali nasibnya karena tidak melihat parit dalam yang ada di belakangnya. Pertama-tama sepedanya yang jatuh terlebih dahulu diikuti dengan sang pemilik di detik berikutnya. Kini Nina dan sepedanya sama-sama tenggelam dalam selokan yang begitu bau dan kotor. Nina yang pendek tak lama mulai kesulitan menapak dan bernafas karena air got yang pasang surut di wajahnya. Samar-samar ia masih bisa melihat teman-teman Noel yang tertawa melihatnya tercebur ke selokan. Samar-samar juga ia melihat Noel yang segera berlari menghampirinya. Noel segara mengulurkan tangannya pada Nina. Hebat sekali tubuh kecilnya itu sanggup menarik Nina yang sudah hampir kehabisan nafas dan tentunya berselimut air got yang bau. Tak lama, sepeda Nina juga telah Noel angkat.
“Nina, ayo kita segera pulang, aku akan mengantarmu.”
Begitu lah percakapan singkat antara Noel dan Nina yang kini hanya berdiam dalam perjalanan mereka. Nina hanya sibuk menahan tangisnya karena badannya yang basah dan bau, ia mulai merasa kedinginan. Tapi setidaknya ia tidak mati tenggelam tadi.
Akhirnya mereka berdua sampai. Bunda yang sudah menunggu dengan cemas memasang wajah kaget.
“Nina? Kenapa kamu?”
“A-aku jatuh ke got, ma. Noel yang membantuku tadi.”
Wajah bunda yang kaget berangsur tersenyum.
“Terima kasih ya, Noel. Kamu memang bisa bunda andalkan.”
“Sama-sama, bunda. Ini bukan apa-apa. Aku kan temannya NIna, sudah seharusnya aku membantunya saat dia kesulitan.”
*
*
Lugu sekali anak usia lima tahun itu. Tapi, ia juga tidak kalah berani dan setia kawan. Ya, ia adalah sahabat pertamaku, Noel. Ia adalah orang yang mengajarkanku artinya sahabat. Sampai sekarang aku masih mengingat betul kejadian itu.
Untuk Noel yang sekarang tidak kuketahui keberadaannya. Aku ingin mengucapkan terima kasihku karena engkau telah mengajarkanku arti sahabat yang sesungguhnya. Seorang sahabat yang menolongky dalam susah.
Aku menutup kembali album foto itu dan menyimpannya dengan rapi di lemariku agar nantinya aku bisa terus mengenang cerita ini dan bahkan menceritakannya kepada anak-anakku kelak.
